Kamis, September 03, 2009

Sukses

Seminar Akbar Tentang Sukses

Dalam suatu seminar akbar bertajuk “Mencapai Sukses Ultima & Optima” yang berlangsung di Ethos Ballroom, Hotel Mahardika Jakarta, seorang pembicara mengakhiri ceramahnya dengan mengajukan sejumlah soal untuk direnungkan :
- Jika sukses memang bermakna, mengapa gedung-gedung kita semakin tinggi tetapi emosi kita semakin dangkal ?
- Jika sukses memang bermakna, mengapa jalan-jalan kita semakin lebar tetapi wawasan kita semakin sempit ?
- Jika sukses memang bermakna, mengapa makanan kita semakin bervariasi tetapi nutrisi kita semakin sedikit ?
- Jika sukses memang bermakna, mengapa obat-obatan kita semakin beragam tetapi kesehatan kita semakin rapuh ?
- Jika sukses memang bermakna, mengapa harta benda kita semakin bertambah tetapi derma kita semakin menciut ?
- Jika sukses memang bermakna, mengapa gaji kita lebih besar dua kali tetapi stress kita pun bertambah dua kali ?
- Jika sukses memang bermakna, mengapa kebebasan kita semakin tinggi tetapi tanggungjawab kita semakin rendah ?
- Jika sukses memang bermakna, mengapa kita semakin banyak berbicara tetapi semakin sedikit merenung ?

Mengapa dan mengapa ?
Semua peserta diam terhenyak. Komunitas pecandu sukses itu tertegun dengan lidah kelu. Hening menggantung di udara, mencekam…..Ebiet G. Ade, yang hadir sebagai undangan kehormatan, angkat bicara. Sesudah memberi komentar panjang lebar ia pun mengakhirinya dengan melantunkan :
- Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita.
- Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
- Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita,
- Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.
Tanpa dikomando peserta seminar serentak melanjutkan dengan koor yang sendu, ho, ho, ho, ho, ho, ho, ho, ho, ….
Dengan melemahnya lagu Ebiet, suasanapun semakin hening kembali, tak lama kemudian Frijjof Capra, pembicara utama yang juga fisikawan, meraih mikrofon dan memberikan pendapatnya :
- Kita terlalu saintifik & kurang intuitif
- Kita terlalu matematik & kurang astistik
- Kita terlalu rasional & kurang imajinatif
- Kita terlalu analitik & kurang induktif
- Kita terlalu analitik & kurang sintetik
- Kita terlalu material & kurang spiritual
- Kita terlau maskulin & kurang feminin
Tak lama seorang peserta seminar mengacungkan tangan minta berbicara. Moderator memberinya izin. Ia, berdiri mendekati mikrofon, lalu mengutip kalimat berikut dari buku yang dibawanya :
- Saat bekerja hayatilah bahwa pekerjaanmu adalah rahmat, karena itu bekerjalah dengan hati yang tulus penuh rasa syukur.
- Ingatlah bahwa pekerjaanmu adalah amanah, karena itu bekerjalah dengan benar penuh tanggungjawab.
- Hayatilah bahwa pekerjaanmu sebagai panggilan, karena itu bekerjalah sampai tuntas penuh integritas.
- Pandanglah pekerjaanmu sebagai aktualisasi diri, karena itu bekerja keraslah penuh semangat. - Persembahkanlah pekerjaanmu sebagai ibadah, sebab itu bekerjalah dengan serius penuh pengabdian.
- Lakonilah pekerjaanmu sebagai seni, sebab itu bekerjalah dengan cerdas penuh kreativitas.
- Sadarilah bahwa pekerjaanmu adalah kehormatanmu, sebab itu bekerjalah dengan unggul penuh ketekunan.
- Sajikanlah pekerjaanmu sebagai pelayanan, sebab itu bekerjalah dengan sungguh penuh kerendahan hati.

Referensi :
Buku 8 Ethos Kerja Profesional
Karangan : Jansen H. Sinamo



<>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar